19/08/12

Hubungan Evolusi Manusia dengan Perubahan Iklim

Minggu, 29 Juli 2012 - Mark Collard, seorang profesor arkeologi daru Universitas Simon Fraser akan membahas tentang dampak perubahan iklim pada evolusi manusia pada science fair terbesar di dunia.


Konferensi   American Association for the Advancement of Science (AAAS) 2012 berjalan tanggal 16 hingga 20 Februari di   Vancouver Convention Centre.
Collard akan memberi ceramah berjudul Environmental drivers of technological evolution in small-scale populations pada seminar berjudul Climate Change and Human Evolution: Problems and Prospects.
Collard berpendapat, “kita perlu lebih memahami jalan iklim dan variabel lingkungan terkait berpengaruh pada masyarakat berskala kecil yang ada dalam sejarah sebelum kita dapat secara akurat melacak pengaruh perubahan iklim pada evolusi manusia.”
Sebagai direktur program Human Evolutionary Studies SFU, Collard juga menyajikan data yang dianalisis tim penelitiannya. Penelitian mereka menunjukkan variasi lingkungan secara signifikan mempengaruhi jumlah dan variasi alat pengumpul makanan yang dibuat para pemburu pengumpul.
 “Pola dasarnya,” jelas Collard, “adalah orang yang hidup dalam lingkungan keras dan beresiko, seperti di Artik, menghasilkan dan memakai banyak alat yang lebih kompleks daripada orang yang hidup di lingkungan yang kurang keras dan kurang beresiko seperti hutan rimba tropis. Alat pengumpul makanan menyusun sejumlah besar catatan arkeologi awal. Jadi temuan kami memberi kita jalan melacak dampak perubahan iklim pada evolusi manusia.”
 Collard dapat menghubungkan temuannya dengan pemikiran sekarang mengenai dampak perubahan iklim pada penyebaran manusia modern secara global dan evolusi kebudayaan mereka pada beberapa ratus ribu tahun terakhir. Spesies kita, Homo sapiens, berevolusi dalam periode waktu tersebut.
 Sebagai peserta diskusi dalam seminar lain,  Constructing a Human World Fit for Nature, Collard akan mencari tema umum dalam presentasi keenam pembicara. Mereka akan mengkaji penelitian dibalik konundrum evolusioner yang menjadi tema pusat seminar ini.
 Konundrumnya – sementara evolusi memungkinkan manusia purba beradaptasi dengan baik pada beragam niche ekologi, manusia modern sekarang mengubah ekosistem lokal dan iklim global dalam eksistensi mereka.
Sumber berita:

Burung yang Hidup Dalam Berbagai Cuaca Menyanyikan Lagu yang Lebih bervariasi

Jumat, 17 Agustus 2012 - Sebuah studi terbaru pada burung penyanyi Amerika utara mengungkapkan kalau burung yang hidup dalam cuaca yang bergejolak merupakan penyanyi yang lebih fleksibel.

Pencampuran membantu burung memastikan kalau lagu mereka didengar tidak peduli apa habitatnya, kata para peneliti dari  Australian National University dan National Evolutionary Synthesis Center.
Untung menguji gagasan ini, para peneliti menganalisis lagu yang direkam dari lebih dari 400 burung jantan dalam 44 spesies burung penyanyi amerika utara – sebuah set data yang mencakup oriole, blackbird, warbler, layang-layang, kardinal, finch, chickade, dan thrush.
 Mereka memakai software komputer untuk mengubah setiap rekaman suara – sebuah medley dari siulan, nyanyian, cheep, chirp, trill, dan twitter – menjadi sebuah spektrogram, atau grafik suara. Seperti skor musik, pola kompleks garis dan tajam dalam spektrogram memungkinkan para ilmuan melihat dan menganalisis secara visual setiap suara.
 Untuk setiap burung dalam data set mereka, mereka mengukur karakteristik suara seperti panjang, nada tertinggi dan terendah, jumlah not, dan spasi diantaranya.
 Ketika mereka mengkombinasikan data ini dengan rekaman suhu dan presipitasi serta informasi lain seperti habitat dan lintang, mereka menemukan pola mengejutkan – jantan yang mengalami lebih banyak ayunan musim antara kering dan basah menyanyikan lagu yang lebih beraneka ragam.
 “Mereka dapat menyanyikan not tertentu sangat rendah atau sangat tinggi atau mereka dapat menyetel kenyaringan atau temponya,” kata peneliti  Clinton Francis dari National Evolutionary Synthesis Center.
Pyrrhuloxia atau kardinal gurun dari barat daya Amerika dan Meksiko utara dan goldfinch Lawrence dari Kalifornia adalah dua contoh.
 Selain variasi dalam cuaca di segala musim, para peneliti juga melihat variasi geografi dan menemukan pola yang sama. Spesies yang mengalami lebih banyak perbedaan curah hujan dari satu lokasi ke lokasi lain dalam jangkauan menyanyinya menyanyikan nada yang lebih kompleks. Finch rumah dan plumbeous vireos merupakan dua contoh, kata Francis.
Mengapa seperti ini?
“Presipitasi dekat kaitannya dengan seberapa lebatnya habitat tersebut,” kata peneliti  Iliana Medina dari Australian National University. Mengubah vegetasi berarti mengubah kondisi akustik.
 “Suara dipancarkan berbeda lewat tipe vegetasi berbeda,” jelas Francis. “Sering ketika burung tiba ke tanah pembiakan mereka di musim semi, misalnya, sulit ditemukan daun di pohon. Sepanjang hanya beberapa minggu, transmisi suara berubah drastis seiring tumbuhnya dedaunan.”
 “Burung yang lebih fleksibel dalam suaranya lebih mampu mengatasi berbagai lingkungan akustik yang mereka alami sepanjang tahun,” tambah Medina.
 Tim terpisah melaporkan hubungan yang sama antara lingkungan dan nyanyian burung pada mockingbird di tahun 2009, namun ini adalah studi pertama menunjukkan kalau pola tersebut terjadi pada lusinan spesies.
 Menariknya, Francis dan Medina menemukan kalau spesies dengan perbedaan warna mencolok antara jantan dan betina juga menyanyikan lagu yang lebih variatif, yang artinya variasi lingkungan bukan satu-satunya faktor, kata para peneliti.
Sumber berita:
Referensi jurnal:
I. Medina, C. D. Francis. Environmental variability and acoustic signals: a multi-level approach in songbirds. Biology Letters, 2012; DOI: 10.1098/rsbl.2012.0522